HEADLINE NEWS

Banyak Manfaat, Pemerintah Dorong Transformasi TV Digital



Mataram - - Pemerintah Pusat melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) kembali mendorong transformasi teknologi televisi analog ke televisi digital. Pemerintah ingin mengalihkan ke televisi digital agar pemanfaatan frekuensi dapat lebih efisien.


Selain itu, transformasi TV Digital juga akan mendorong menciptakan lapangan kerja diberbagai bidang. Salah satunya inovasi pembuatan konten-konten kreatif. 


"Sudah tidak ada alasan bagi kita untuk menunda proses migrasi digitalisasi dari TV analog ke TV Digital," kata Wakil Gubernur NTB Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah, saat membuka webinar Sosialisasi Televisi Digital di Provinsi NTB dengan tema "Indonesia Goes To Digital", bertempat di Pendopo Wakil Gubernur, Rabu (2/9/). 


Sehingga kata Ummi Rohmi, sapaan akrab Wakil Gubernur, terjadinya migrasi dari era penyiaran analog menuju era penyiaran digital, akan mendorong tersedianya saluran siaran yang lebih banyak, sehingga membuka peluang lebih luas bagi para pelaku penyiaran dalam menjalankan fungsinya dan dapat memberikan peluang lebih banyak bagi masyarakat luas untuk terlibat dalam industri penyiaran ini.  


"Sekali lagi, melangkah ke Digitalisasi adalah keharusan yang terus dikejar bersama seluruh pihak termasuk regulasi dan aturannya untuk segera dihadirkan," tegas Ummi Rohmi.


Sementara itu, dalam video testimoninya Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate memaparkan alasan penting percepatan digitalisasi televisi sebagai bagian dari prioritas digitalisasi nasional. "Percepatan digitalisasi televisi adalah sebuah keharusan dengan beberapa alasan," ungkapnya.


Alasan pertama, dari sisi perkembangan digitalisasi penyiaran global, Indonesia jauh tertinggal dalam proses digitalisasi televisi sistem terestrial.


Bahkan, beberapa negara di Eropa sudah selesai dengan proses digitalisasi televisi lebih dari satu dekade lalu. Sedangkan negara-negara di Asia seperti Jepang telah menyelesaikan proses digitalisasinya di tahun 2011 dan Korea Selatan di tahun 2012. Thailand dan Vietnam pun sudah memulai penyelesaian ASO secara bertahap di tahun 2020 ini. Malaysia dan Singapura sudah selesai dengan ASO secara nasional di tahun 2019. "Sekarang, masyarakat di sana telah dapat menikmati siaran televisi dengan teknologi digital, dengan kualitas gambar dan suara yang sangat baik, serta menikmati pilihan program siaran yang lebih beragam," ungkapnya Jhonny


Kedua, dari sisi arah kebijakan nasional, Presiden Joko Widodo telah mencanangkan percepatan transformasi digital Indonesia. Ketiga, dari sisi kepentingan publik, proses digitalisasi televisi yang dikenal sebagai Analog Switch-Off atau ASO ini harus ditempuh dan disegerakan, demi menghasilkan kualitas penyiaran yang lebih efisien dan optimal untuk kepentingan seluruh masyarakat Indonesia. 


Keempat, dari sisi kepentingan industri penyiaran, disrupsi teknologi menuntut para pelaku industri di sektor ini untuk menyesuaikan pola bisnisnya agar sejalan dengan perkembangan era digital. Hal ini sangat penting untuk menjaga keberlangsungan usaha para pelaku bisnis dan investor bidang penyiaran. 


Kelima, dari sisi nilai tambah dalam penataan frekuensi, dengan percepatan digitalisasi, frekuensi dapat ditata ulang dan dimanfaatkan untuk penyediaan layanan lain terutama untuk layanan publik dan layanan internet cepat. Negara-negara di dunia telah memanfaatkan hasil efisiensi spektrum frekuensi yang dihasilkan dari digitalisasi penyiaran televisi untuk meningkatkan akses internet kecepatan tinggi. 


Pita frekuensi 700 MHz yang adalah rentang yang digunakan untuk siaran televisi terestrial di seluruh dunia, merupakan pita frekuensi “emas” karena ideal untuk layanan akses internet broadband," jelas Menteri Johnny. 


Senada dengan hal tersebut, Direktur Penyiaran Ditjen PPI Kemenkominfotik RI Ir. Geryantika Kurnia, M.Eng, MA, menegaskan, proses migrasi TV Digital harus segera dilakukan." Karena tahun 2020 ini, hanya Indonesia dan Timur Leste di Asia yang masih menggunakan TV Analog,"tuturnya.


Menurut data Kominfo, terdapat 30 stasiun TV Analog yang ada di NTB. Harapannya Pemda dapat mendorong untuk segera migrasi ke digital. "Penyiaran TV Digital ini memiliki kualitas gambar dan suara jauh lebih baik dibandingkan siaran analog,” tuturnya.


Kegiatan sosialisasi daring yang dipandu

Ketua KPID Provinsi NTB Yusron Saudi,  ST., M. Pd ini turut menghadirkan berbagai narasumber seperti Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Pusat Agung Supriyo, Dosen Pasca Sarjana Universitas Islam Negeri Mataram Dr. H. Kadri, M.Si , Direktrur Teknik TVRI Supriyono dan Ketua ATDSI Eris Munandar. (edy@diskominfotik_ntb/LNG04) 

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *